Laman

Doa Qunut, Doa Doa Harian, Doa Tahniah , Doa Doa Nabi, Doa Sholat, dan Ayat-Ayat Al-Qur'an

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari

Gerhana . Sahabat Yang Di Rahmati Allah, Untuk kajian kali ini admin akan sedikit mengangkat sebuah artikel tulisan ust. Amien Mukhtar mengenai Gerhana dan Tata cara Sholat Gerhana Bulan atau Gerhana Matahari. Gerhana, baik matahari maupun bulan, bukan semata-mata peristiwa alam yang terjadi dengan sendirinya, melainkan merupakan ketetapan dan kekuasaan Allah yang tidak dapat dirubah oleh makhluknya. 

http://www.doa-qunut.com/


Berikut ini adalah dalil mengenai Syariat Gerhana, Allah berfirman: 



هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوْرًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ مَاخَلَقَ اللهُ ذَالِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ 



“Dialah yang menjadikan matahari bersinar (di siang hari) dan bulan bercahaya (di malam hari), serta menentukan manazilnya, agar kamu dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah menciptakan semua itu dengan ketentuan yang pasti. Ia menjelaskan ayat kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang mau mengerti”. Q.S. Yunus:5 

Orang-orang jahiliyyah termasuk mereka yang tidak mau mengerti, di mana mereka meyakini bahwa peristiwa gerhana itu akan menyebabkan terjadinya sesuatu di bumi, seperti kematian atau kelahiran atau gerhana terjadi karena ada hubungannya dengan hal itu. Sebab pada waktu itu Ibrahim putra Nabi wafat pada usia 17 bulan (lahir Jumadil Ula tahun 9 H.) Maka pola pikir seperti ini diluruskan oleh Nabi agar menjadi keyakinan bahwa matahari dan bulan itu termasuk makhluk yang tunduk kepada Allah. Keduanya tidak punya kekuasaan untuk menyebabkan terjadinya sesuatu. Nabi bersabda: 

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ 

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari beberapa tanda kekuasaan Allah. Tidak terjadi gerhana karena lantaran hidup-matinya seseorang. Kalau kamu melihat ada gerhana, hendaklah kamu berdoa kepada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah.” H.R. Al Bukhari dan Muslim. 

Berdasarkan data hisab, sejak periode mekah (13 tahun) dan Madinah (10 tahun) masa kenabian Muhamad hanya ada lima kali gerhana Matahari di Mekkah-Madinah. 4 Kali terjadi sebelum Nabi Hijrah ke Madinah dan hanya satu kali yang terjadi setelah Nabi Hijrah ke Madinah. Gerhana-gerhana yang terjadi itu hanya gerhana sebagian. Jalur gerhana matahari total/cincin tidak melintasi Mekah-Madinah. Hanya gerhana matahari total 613 M (10 tahun sebelum hijrah, 10 SH) yang melintas tidak jauh di sebelah selatan Mekah. 

Gerhana yang terjadi di Madinah adalah gerhana matahari annular (cincin). Menurut Mahmud Basya al-Falaki sebagimana dikutip oleh Ahmad Abdurrahman al-Bana dalam kitab al-Fathur Rabbani, peristiwa itu terjadi pada tanggal 29 Syawal 10 H bertepatan dengan tanggal 27 Januari 632 M, pukul 8.30 pagi waktu Madinah. Sedangkan menurut Dr. Thomas Djamaludin terjadi pada 30 Januari 632 atau menjelang awal Dzulqa'dah 10 H. Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85 %. Gerhana waktu itu bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, putra Nabi saw. Yakni setelah dimakamkannya Ibrahim putra Nabi di pekuburan Baqi. Sebenarnya sebelum itu pun pernah terjadi gerhana bulan 1 kali pada tanggal 14 Jumadits tsaniah tahun 4 H/20 Nopember 625 M, namun waktu itu belum disyariatkan salat khusuf. 

Sejak gerhana cincin ini disyariatkan salat gerhana, baik bulan maupun matahari, kepada umat Islam, walaupun Rasul sendiri berkesempatan melaksanakan salat itu hanya satu kali, karena empat bulan setelah peristiwa gerhana itu beliau wafat. 

Pada hadis tersebut Nabi menyinggung gerhana matahari dan bulan, ini sebagai isyarat bahwa selama bumi, matahari, dan bulan tetap beredar pada porosnya, maka peristiwa gerhana ini akan selalu terjadi. Dan selama itu pula manusia akan selalu berkeyakinan seperti orang-orang pada zaman jahiliyyah bila tidak berguru kepada Rasul. Agar tidak berkeyakinan seperti orang-orang jahiliyyah, maka bila terjadi gerhana, baik ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan, Rasul telah mengajarkan kepada kaum muslimin untuk: 

فَادْعُوا اللَّهَ 

berdoa kepada Allah, 

وَكَبِّرُوا 

Bertakbirlah. 

Karena di dalam hadis ini tidak diterangkan kaifiyat/tata cara takbir secara khusus, maka berlaku ketentuan takbir seperti halnya iedul fitri dan iedul adha, Allahu akbar allahu akbar laa ilaaha illallah allahu akbar wa lillahilham 

وَصَلُّوا 

Salatlah 

Adapun kaifiyat salat gerhana memiliki kekhususan dibandingkan dengan salat lainnya, yakni dilakukan sebanyak 2 rakaat; pada setiap rakaat terdiri atas 

- Dua kali baca fatihah, yang satu setelah bangkit dari ruku pertama, 
- Dua kali baca surat, 
- dua kali ruku, 
- dua kali I’tidal, 
- dan dua kali sujud. 

Jadi, dalam 2 rakaat itu ada 4 fatihah, 4 surat, 4 ruku, 4 I’tidal, dan 4 sujud 

Kaifiyat ini yang membedakan dari salat-salat pada umumnya. Silahkan baca Sambungan dibawah ini mengenai tata cara Sholat Gerhana.

وَتَصَدَّقُوا 
Bersedekahlah 
Dalam sabda Nabi ini diterangkan secara mutlak atau umum tidak dibatasi atau dikhususkan pada fakir dan miskin, karena itu distribusi atau penyaluran shadaqah gerhana tidak dibatasi untuk mustahiq tertentu. 

Demikianlah ajaran Rasul yang disampaikan kepada umatnya. Dengan ajaran ini tampak begitu jelas indentitas umat Muhamad dalam menyiikapi peristiwa gerhana yang akan senantiasa terjadi selama matahari, bulan, dan bumi masih beredar pada porosnya 

Kita berharap, mudah-mudahan peristiwa gerhana yang berkali-kali kita alami semakin memperkuat keyakinan kita akan kemahakuasaan Allah, dan mendorong tekad kita untuk tidak maksiat dan melanggar aturan-Nya. Ammin


Syariat Gerhana 

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُوْرًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ مَاخَلَقَ اللهُ ذَالِكَ إِلاَّ بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ 

Dialah yang menjadikan matahari bersinar (di siang hari) dan bulan bercahaya (di malam hari), serta menentukan manazilnya, agar kamu dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu. Allah menciptakan semua itu dengan ketentuan yang pasti. Ia menjelaskan ayat kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang mau mengerti Q.S. Yunus:5 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوْا وَتَصَدَّقُوْا وَصَلُّوا – رواه البخاري و مسلم و أحمد 

Dari Aisyah: “Sesungguhnya Nabi saw. bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan itu dua tanda dari beberapa tanda kekuasaan Allah. Tidak terjadi gerhana karena hidup-matinya seseorang. Kalau kamu mengetahui ada gerhana, hendaklah kamu berdoa kepada Allah, bertakbir, bersedekah, dan salat.” H.r. Al Bukhari, Muslim, dan Ahmad. 

عَنْ أَبِيْ بَكْرَةَ رضه قَالَ إِنْكَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ – رواه البخاري – 

Dari Abu Bakrah, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah saw. maka beliau salat dua rakaat.” H.r. Al-Bukhari 

عَنْ عَائِشَةَ رضها أَنَّ النَّبِيَّ جَهَرَ فِي صَلاَةِ الْخُسُوْفِ بِقِرَاءَتِهِ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ قِرَاءَتِهِ كَبَّرَ فَرَكَعَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ثُمَّ يُعَاوِدُ الْقِرَاءَةَ - رواه البخاري – وَفِى لَفْظٍ: جَهَرَ فِي صَلاَةِ الْخُسُوْفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّىأَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِيْ رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجْدَاتٍ 

Dari Aisyah, “Sesungguhnya Nabi saw. mengeraskan bacaan (Fatihah dan surat) pada salat gerhana. Apabila selesai dari membacanya, beliau takbir kemudian ruku. Dan bila bangkit dari ruku beliau mengucapkan sami’allhu...Kemudian beliau mengulangi bacaannya. H.r. Al-Bukhari. Dalam redaksi lain: “Beliau mengeraskan bacaan (Fatihah dan surat) pada salat gerhana. Beliau salat gerhana empat kali ruku dan sujud pada dua rakaat. 

عَنْ عَائِشَةَ رضها أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ فَبَعَثَ مُنَادِيًا بِ الصَّلاَةُ جَامِعَةُ ... - رواه البخاري – 

Dari Aisyah, “Sesungguhnya telah terjadi gerhana pada masa Rasulullah saw. lalu beliau mengutus seseorang untuk menyerukan, ‘Salat berjama’ah’” H.r. Al-Bukhari 

Matahari, bumi, dan bulan adalah ciptaan Allah. Masing-masing beredar pada garis edarnya, tunduk kepada suatu aturan tertentu, dengan qadar (hitungan waktu) yang pasti dan tepat, sehingga dengan memperhatikan pergerakan benda-benda langit tersebut manusia bisa menghitung bilangan waktu dan menentukan arah, baik di bumi maupun di langit. 

Pada saat-saat tertentu ketiganya berada dalam posisi yang sedemikian rupa, sehingga terletak dalam satu garis lurus, lalu terjadi satu peristiwa yang disebut gerhana. Bila bumi terletak di antara matahari dan bulan, maka akan terjadi gerhana bulan. Sedangkan apabila bulan terletak di antara matahari dan bumi, maka akan terjadi gerhana matahari. 

Data Gerhana Jumat 26 April 2013


Tipe Gerhana Bulan =GERHANA BULAN PARSIALAlt
Awal fase penumbra (P1) pada tanggal26 April 2013pukul :01:05:09WIB+68
Awal fase umbra (U1) pada tanggal26 April 2013pukul :02:55:24WIB+42
Awal fase total (U2) pada tanggalTIDAK ADApukul :TIDAK ADAWIB
Gerhana bulan maksimum pada tanggal26 April 2013pukul :03:08:32WIB+39
Akhir fase total (U3) pada tanggalTIDAK ADApukul :TIDAK ADAWIB
Akhir fase umbra (U4) pada tanggal26 April 2013pukul :03:21:40WIB+36
Akhir fase penumbra (P4) pada tanggal26 April 2013pukul :05:11:55WIB+10

Yang teramati mulai 02.55 – 03.21 WIB dengan permukaan bulan yang masuk ke dalam bayang umbra bumi sebesar 1,5 %.

Calendar
DateEcl. TypePen. Mag.Umbral Mag.Pen. Eclipse BeginsAltPartial Eclipse BeginsAltTotal Eclipse BeginsAltMid. EclipseAltTotal Eclipse EndsAltPartial Eclipse EndsAltPen. Eclipse EndsAlt
2013-Apr-26P0.9870.01501:04+6802:54+42--03:07+39--03:21+3605:11+10
2013-Oct-19N0.765-0.27204:51+07----06:50-22----08:50-50
2014-Oct-08T2.1461.16615:16-3416:15-2017:25-0417:55+0318:24+1019:34+2720:34+41
2015-Apr-04T2.0791.00116:01-2617:16-0818:58+1619:00+1719:03+1820:45+4221:59+60
2016-Mar-23N0.775-0.31216:39-19----18:47+12----20:55+43
2016-Sep-16N0.908-0.06423:55+84----01:54+57----03:54+28
2017-Feb-11N0.988-0.03505:34+03----07:44-28----09:53-58
2017-Aug-07P1.2890.24622:50+7300:23+78--01:20+67--02:18+5303:51+32
2018-Jan-31T2.2941.31517:51-0418:48+0919:52+2320:30+3221:08+4022:11+5223:08+62
2018-Jul-28T2.6791.60900:15+7601:24+6402:30+4903:22+3804:13+2605:19+1106:29-05
2019-Jul-17P1.7040.65301:44+5803:02+41--04:31+21--06:00+0107:18-16
2020-Jan-11N0.896-0.11600:08+59----02:10+44----04:12+20
2020-Jun-06N0.568-0.40500:46+69----02:25+49----04:04+27
2020-Nov-30N0.829-0.26214:32-45----16:43-16----18:53+13
2021-May-26T1.9541.00915:48-2416:45-1118:11+0818:19+0918:26+1119:52+3120:50+43
2021-Nov-19P2.0720.97413:02-6514:19-48--16:03-24--17:47-0119:04+16



Adapun selama jangka 8 tahun, yakni sejak 2013 hingga 2021, ada 16 kali gerhana bulan yang bisa diamati di wilayah Tasikmalaya dengan rekapitulasi sebagai berikut: 
A. 5 kali gerhana bulan total (2014-Oct-08, 2015-Apr-04, 2018-Jan-31, 2018-Jul-28, 2021-May-26), 
B. 4 kali gerhana bulan parsial/ sebagian (2013-Apr-26, 2017-Aug-07, 2019-Jul-17, 2021-Nov-19), 
C. 7 kali gerhana bulan penumbra (2013-Oct-19, 2016-Mar-23, 2016-Sep-16, 2017-Feb-11, 2020-Jan-11, 2020-Jun-06, 2020-Nov-30). Gerhana tipe ini tidak disyariatkan untuk melaksanakan salat gerhana.



Hal Yang Berkaitan Dengan Terjadinya Gerhana
Pada waktu terjadinya selain Shalat Gerhana dua raka'at, ada perintah:
1- Berkhutbah (seperti khutbah Jum'at, tetapi tidak ada duduk antara dua khutbah, hanya satu khutbah) setelah shalat dengan memberi nasihat apa yang perlu di waktu itu, menerangkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Besar, dan mengingatkan, bahwa gerhana itu terjadinya bukan karena mati atau hidup seseorang, melainkan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. yang ditunjukkan kepada kita.
2- Membanyakan menyebut asma Allah (bertakbir) dengan mengingat kekuasaan-Nya.
3- Berdo'a meminta sekalian apa yang hendak diminta, dan minta ampun dari dosa.
4- Bershadaqah
5- Memerdekakan hamba sahaya, kalau ada.
Shalat Kusuf (sebutan bagi Gerhana Matahari) dan Khusuf (sebutan bagi Gerhana Bulan)

TATA CARA SHALAT GERHANA
Cara Shalat Gerhana:
Shalat gerhana itu, dua raka'at berjama'ah dengan tidak ada adzan dan iqomah. Shalatnya seperti Shalat Shubuh, tetapi di tiap-tiap raka'at ditambah satu ruku', yaitu sesudah bangkit dari ruku' dengan membaca "Sami'allahu liman hamidah" dan "Rabbanaa walakal hamdu" terus berdiri dan dilanjutkan membaca al-Fatihah dan Surat lagi, sesudahnya kemudian ruku' lagi, lalu bangkit dari ruku', lalu sujud lalu duduk lalu sujud, demikianlah selanjutnya dalam raka'at kedua. Jadi Shalat Gerhana itu dua raka'at dengan empat ruku' dan empat sujud.
Dalil-dalil Shalat Gerhana

Dari Aisyah r.a. (berkata): "Bahwasanya Matahari terjadi gerhana pada masa Rasulullah saw. lalu beliau mengutus penyeru mengajak orang-orang berkumpul untuk shalat, kemudian beliau berdiri shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud". [H.R. al-Bukhari: 1066 & Muslim: 2131]

Dari Aisyah r.a., ia berkata: Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah saw., lalu Raslullah saw. keluar ke masjid kemudian berdiri dan bertakbir dan orang-orang pun berbaris di belakangnya, lalu beliau membaca dengan bacaan yang panjang kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau berdiri lalu membaca dengan bacaan yang panjang tetapi kurang dari bacaan yang pertama, kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang tetapi kurang dari ruku' yang pertama, (kemudian mengangkat kepalanya) sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau sujud (dua kali sujud) kemudian beliau melakukan pada raka'at yang selanjeutnya seperti itu hingga sempurna dikerjakan empat raka'at dan empat sujud dan gerhana Matahari pun berakhir sebelum beriau berpaling, kemudian beliau berdiri dan berkhutbah memuji dan menyanjung Allah sengan sepantasnya, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah bersegera melaksanakan shalat (gerhana)". [H.R. al-Bukhari: 5197 & Muslim: 2129]

Dari Aisyah r.a. (ia berkata): "Bahwasanya Nabi saw. mengeraskan bacaannya pada shalat gerhana, beliau shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud" [H.R. al-Bukhari: 1065 & Muslim: 2131]
.
Anjuran Bershadaqah, Istighfar, Dan Dzikir Pada Kejadian Gerhana, Dan Keluar Waktu Selesai Shalat Dengan Keadaan Terang.

Dari Asma' r.a., ia berkata: "Sungguh Nabi saw. memerintahkan memerdekakan hamba sahaya pada hari terjadi gerhana Matahari". [H.R. al-Bukhari: 1054]

Dari Aisyah r.a. Bahwasanya Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah berdo'a kepada Allah SWT., bertakbir, shalat, dan bershadaqah". [ Muttafaq Alaih ]

Dari Abu Musa r.a., ia berkata: Telah terjadi gerhana Matahari, (di zaman Nabi saw.) maka Nabi saw. berdiri dengan terkejut, beliau khawatir terjadi kiamat, lalu beliau menuju masjid, kemudian beliau shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang sangat lama, saya melihat beliau melakukannya, kemudian beliau bersabda: "Ini adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang Allah tunjukkan bukan dikarenakan kematian seseorang dan hidupnya, tetapi Allah pemperingatkan hamba-hamba-Nya dengannya, maka apabila kalian melihat sesuatu dari itu maka bersegeralah bangun untuk mengingat-Nya, berdo'a kepada-Nya, dan memohon ampun (dari dosa dan kesalahan) kepada-Nya". [H.R. al-Bukhari: 1059 & Muslim: 2156]

Wallahu A'lam.
.
Untuk Daerah Bandung Dan Sekitarnya:
.
a. Kontak Awal Gerhana...... : Pukul 06:19 WIB
b. Puncak Gerhana.............. : Pukul 07:21 WIB
d. Kontak Akhir Gerhana...... : Pukul 08:32 WIB
.
Dan untuk keseragaman pelaksanaan Shalat Gerhana:
.
a. Mulai Takbir............... : Pukul 06:30 WIB
b. Shalat Gerhana......... : Pukul 07:30 WIB (dilanjutkan dengan Khutbah,
pengumpulan, dan pembagian shadaqah)
.
Silahkan Share Semoga Bermanfaat
INFO ASTRONOMI bersama Hidayatul Munawaroh.
"Cakupan Wilayah Gerhana Matahari 9 Maret 2016 di Belahan Dunia"
Selain 2 negara Indonesia & Mikronesia yang dilintasi garis totalitas gerhana matahari 9 maret 2016 nanti, masih ada bayangan panumbra gerhana matahari yang meliputi cakupan wilayah yang luas di diunia. Dimana wilayah yang mendapat cakupan bayangan panumbra ini akan menyaksikan gerhana matahari sebagian intensitas dari 1% s/d 99%, berikut ulasannya:

Cakupan Wilayah Nomor:
1.) Gerhana Matahari Total (100%)
Pada wilayah ini akan mengalami penggelapan 100% dimana suasana akan berubah drastis seperti waktu malam, suhu akan menjadi dingin, dan tingkah laku hewan nokturnal akan keluar tiba-tiba, kondisi ini terjadi selama beberapa menit saja akibat gerhana matahari total ketika bayangan umbra (gelap) melintasi wilayah jalur ini. Hanya beberapa daerah saja di Indonesia yang beruntung dilintasi garis total ini di Indonesia.

2.) Gerhana Matahari Sebagian (90% - 99%)
Pada wilayah ini akan mengalami penggelapan dengan intensitas 90% s/d 99% saja walaupun tinggi intensitasnya tidak mampu membuat langit gelap seperti malam seperti daerah total, namun pengurangan cahaya matahari memang akan sedikit berkurang sekali mungkin karena intensitasnya mendekati total. Saat puncak gerhana diwilayah ini Matahari akan terlihat seperti bentuk sabit yang sangat tipis. Wilayah ini mencakup beberapa daerah di indonesia antara lain provinsi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara.

3.) Gerhana Matahari Sebagian (40% - 89%)
Seluruh kota/daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan masuk dalam cakupan ini dimana intensitas yang paling rendah sekitar 52% berada dikota Merauke hingga yang paling tinggi 89% dibeberapa daerah di indonesia. Pulau Jawa termasuk dengan intensitas tinggi pada cakupan ini berkisar antara 78% - 89% dimana Matahari akan tampak berbentuk sabit saat puncak gerhana. Selain negara Indonesia cakupan ini akan mencakup negara-negara tetangga di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Laos, Thailand, Vietnam, Brunai Darussalam, Papua Nugini, Timor Leste, Filipina, Kep.Hawai, Kep. Mikronesia, dan Australia bagian utara. Dimana pada cakupan ini matahari akan terlihat berbentuk sabit saat puncak gerhana matahari. Sama dengan wilayah cakupan 2 tidak akan mengalami penggelapan seperti malam, pada wilayah cakupan ini cahaya matahari mungkin akan sedikit redup seperti suasana mendung meski hari itu tidak mendung sama sekali.

4.) Gerhana Matahari Sebagian (1% - 39%)
Pada cakupan wilayah ini Matahari akan tertutup oleh bulan sekitar 1% - 39% saja dimana akan nampak gerhana matahari sebagiannya. Pada wilayah ini penggelapan suasana saat gerhana matahari akan biasa saja tidak terasa sama sekali karena intensitasnya sangat kecil. Wilayah pada cakupan ini berada di negara India, Bangladesh, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Vietnam, Jepang, Alaska, Korea Utara, Korea Selatan, dan beberapa daerah di Australia, China serta Rusia.

5.) Tidak terjadi Gerhana Matahari

Dimana wilayah ini tidak akan menyaksikan gerhana matahari baik total maupun sebagian karena tidak masuk are umbra/panumbra bulan. Matahari akan bersinar biasa aja dan tidak ada cakram bulan yang menutupi matahari karena cakupan gerhana tidak sampai wilayah tersebut. (sumber : Artike Mastroclub

Doa Gerhana Matahari 



Demikianlah ulasan mengenai Tata Cara Sholat  Gerhana Matahari dan Bulan Mudah-mudahan bermangaat dan menjadi bekal ilmu buat anda semuanya, terimakasih 
Facebook Twitter Google+
Back To Top